Mendengar berita yang disampaikan oleh Musa, lantas Fir’aun meminta bukti kebenaran risalah Musa dengan bertanya, “Siapakah Tuhan semesta alam?” Musa menjawab: "Tuhan Pencipta langit dan bumi dan apa-apa yang di antara keduanya, jika kamu sekalian mempercayai-Nya".Berkata Fir'aun kepada orang-orang sekelilingnya: "Apakah kamu tidak mendengarkan?". Seraya sambil mencibir Musa karena apa jawabannya tidak sesuai dengan apa yang ditanyakan. Musa berkata lagi: "Tuhan kamu dan Tuhan nenek-nenek moyang kamu yang dahulu". Fir'aun tertawa dengan congkak seraya berkata, "Sesungguhnya rasul yang diutus kepada kamu sekalian benar-benar orang gila (majnūn)". Musa tak bergeming, ia melanjutkan perkataanya, "Tuhan yang menguasai timur dan barat dan apa yang ada di antara keduanya” Lalu Musa menutup penjelasan dengan tegas, “Sungguh berakalkah kalian (inkuntum ta’qilūn)?!".
Pernyataan Musa yang terahir tersebut membuat Fir’aun menjadi berang. Ia merasa bahwa apa yang dikatakan oleh Musa adalah sebuah kebenaran yang nyata. Manusia tidak akan pernan mengetahui Dzat Tuhan, seperti yang ditanyakan oleh Fir’aun. Manusia hanya dapat mengetahui Tuhan dengan tanda-tanda kekuasaan-Nya yang tersebar di alam semesta. Tanda-tanda tersebut dalam tasawuf disebut tajallī Allah, dan hanya lewat tajallī-Nya lah manusia memiliki pengetahuan tentang-Nya.
Fir’aun memahami itu, namun ia tak mau mengalah. Kesombongan telah menguasai dirinya. Ia tidak dapat lagi menggunakan akalnya. Karenanya ia tidak lagi mahu beradu argumen dengan Musa. Maka dengan menggunakan kekuasaan yang dimilikinya, dengan congkak ia berkata, "Sungguh jika kamu menyembah Tuhan selain aku, benar-benar aku akan menjadikan kamu salah seorang yang dipenjarakan".
Keteguhan hati musa pada agama Allah, dan tekadnya untuk mengancurkan tirani Fir'aun terutama kepada Bani Israil membuat musa tidak bergeming. Musa masih tetap mencoba menyadarkan Fir’aun dengan terus menggugah logika berfikirnya dengan berkata: "Dan apakah (kamu akan melakukan itu) kendatipun aku tunjukkan kepadamu sesuatu (keterangan) yang nyata?"
Lantas Fir'aun menantang Musa dengan berkata: "Datangkanlah sesuatu (keterangan) yang nyata itu, jika kamu adalah termasuk orang-orang yang benar".Maka Musa lalu menunjukan mu’jizat yang diberikan Allah kepadanya berupa, tongkat yang menjadi ular, tangan yang putih bersinar. Lantas Fir'aun berkata kepada pembesar-pembesar yang berada sekelilingnya: “Sesungguhnya Musa ini benar-benar seorang ahli sihir yang pandai, ia hendak mengusir kamu dari negerimu sendiri dengan sihirnya; maka karena itu apakah yang kamu anjurkan?".
Reaksi atas mu’jizat yang ditampakan oleh Nabi Musa kepada Fir’aun sangat di luar dugaan Nabi Musa. Nabi Musa lantas terjebak pada permainan Fir’aun yang menantangnya bertanding dengan para penyihir kerajaan. Namun tentu saja, sekeras apa pun Nabi Musa menyadarkan Fir’aun, walaupun banyak di antara penduduk Negeri Mesir mengakui kebenaran ajaran Musa, ia tetap saja mengingkari peringatan dan risalah Nabi Musa. Kesombongan telah menutup hati Fir’aun yang telah salah memahami arti sebuah kekuasaan. Musa dan saudaranya Harun ahirnya memutuskan untuk hijrah dari Negeri Mesir untuk menghindari kemurkaan Fir’aun agar tidak berdampak buruk bagi orang-orang yang telah beriman kepada ajaran Musa.
Fir’aun yang terlanjur sakit hati kepada Musa, merasa bahwa Musa dan para pengikutnya adalah merupakan ancaman terbesar bagi kekuasaannya. Dikarenakan hal tersebut maka Musa dan para pengikutnya tidak boleh dibiarkan untuk meninggalkan Mesir dan menyebarkan ajarannya. Fir’aun dan tentaranya mengejar Musa dan para pengikutnya, hingga ahirnya Fir’aun dan bala tentaranya ditenggelamkan ke dalam samudera.
Dari kisah Nabi Musa as dan Fir’aun tersebut dapat disimpulkan bahwa orang yang telah tertutup oleh kesombongan dan nafsu akan duniawi tidak akan pernah menerima dan menyadari kebenaran yang ditunjukan kepadanya, sungguhpun ia menjadari dan meyakini kebenaran tersebut. Demikianlah, seperti juga yang terjadi pada Abu Lahab dan para pembesar kafir Quraisy, yang walau pun mengakui bahwa Muhammad adalah orang yang paling mulia di antara mereka sehingga mereka sendiri memberi gelar kepadanya dengan gelar Al-Amin, namun karena hatinya tertutup oleh pengaruh duniawi, maka ia menolak ajaran Islam dan berusaha untuk menghancurkan Islam.






0 komentar:
Posting Komentar