Anak-anak merupakan generasi penentu masa depan kemajuan suatu peradaban. Karenanya estafeta ilmu pengetahuan dan nilai-nilai harus senantiasa dilangengkan bahkan di kembangkan. Adapun media yang paling utama dalam membentuk generasi masa depan yang unggul adalah melalui pendidikan.
Pendidikan selayaknya harus dilakukan sedini mungkin. Hal ini karena tahun-tahun pertama kehidupan anak merupakan masa yang sangat penting dan kritis dalam pertumbuhan fisik, mental, dan psikososial anak.
Setiap orang tua memiliki harapan yang banyak kepada anak-anaknya. Hal ini karena anak adalah investasi yang tak ternilai harganya. Kesuksesan anak di masa mendatang adalah kebanggaan dan kebagiaan bagi orang tuanya juga. Karenanya orang tua dituntut untuk menempuh cara yang optimal dalam mengupayakan pendidikan anak sedini mungkin bahkan sebelum anak lahir kedunia atau masih dalam kandungan ibu.
Betapa pentingnya pendidikan anak usia dini, dikarenakan pendidikan usia dini merupakan dasar pembentukan mental anak yang nantinya akan menampung dan menerima pendidikan yang lebih tinggi di masa-masa kehidupannya yang akan datang. Apabila pendidikan anak usia dini tidak difasilitasi dan dibiarkan begitu saja, maka bukan tidak mungkin kedepannya orang tua atau guru akan sulit untuk mengajarkan baik pengetahuan atau pun nilai-nilai kehidupan sosial dan agama anak nantinya.
Pentingnya pendidikan anak usia dini telah menjadi perhatian dunia internasional. Dalam pertemuan Forum Pendidikan Dunia tahun 2000 di Dakar Senegal menghasilkan enam kesepakatan sebagai kerangka aksi pendidikan untuk semua dan salah satu butirnya adalah memperluas dan memperbaiki keseluruhan perawatan dan pendidikan anak usia dini, terutama bagi anak-anak yang sangat rawan dan kurang beruntung, Indonesia sebagai salah satu anggota forum tersebut terikat untuk melaksanakan komitmen ini.
Ada empat pertimbangan pokok pentingnya pendidikan anak usia dini, yaitu: (1) menyiapkan tenaga manusia yang berkualitas, (2) mendorong percepatan perputaran ekonomi dan rendahnya biaya sosial karena tingginya produktivitas kerja dan daya tahan, (3) meningkatkan pemerataan dalam kehidupan masyarakat, dan (4) menolong para orang tua dan anak-anak.
Dalam disiplin ilmu neurosciences, pendidikan anak usia dini pada hakikatnya memiliki fungsi untuk mengoptimalkan perkembangan otak sehingga sel-sel otak dapat terangsang untuk lebih cepat berkembang secara pesat. Akan tetapi pendidikan anak usia dini sepatutnya tidak hanya terbatas pada pengembangan kognitif saja, namun juga harus mencakup seluruh proses stimulasi psikososial dan penanaman dasar-dasar spiritual. Maka dengan demikian, pendidikan anak usia dini dapat berlangsung dimana saja dan kapan saja tidak hanya melulu dibatas oleh tembok kelas sekolah.
Tidak seperti pendidikan yang diterapkan kepada remaja atau manusia dewasa, pendidikan usia dini harus disesuaikan dengan masa tumbuh kembang psikologis anak. Seperti yang telah banyak diketahui, bahwa masa kanak-kanak adalah masa bermain, maka pendidikan usia dini pun seharusnya lebih memperbanyak unsur permainan yang tidak mengekang sehingga membuat anak tetap rileks dan terjaga mood-nya.
Kita tidak bisa memaksa anak usia dini untuk belajar layaknya orang dewasa yang belajar dengan cara mendengarkan ceramah, namun kita bisa menanamkan nilai-nilai dan pengetahuan pada anak melalui permainan, seperti dongeng, merangkai bentuk, merangkai warna, menggambar dan lain sebagainya. Dikarenakan hal tersebut maka seorang pendidik harus menyediakan kelas yang berisi kesenangan, antusiasme, dan rasa penasaran.
Begitupun dalam pendidikan Islam yang tidak hanya mengedepankan pengetahuan kognitif namun juga pengetahuan spiritual keagamaan, maka pendidikan Islam bagi anak usia dini seharusnya tidak hanya sebatas hafalan doa atau pun surat-surat pendek al-Quran saja, akan tetapi bagaimana cara menerapkannya. Pendidikan spiritual keagamaan seharusnya tidak hanya dibebankan kepada guru taman kanak-kanak, play gorup atau pun raudhatul athfal, akan tetapi orang tua memiliki peran yang sangat penting bagaimana menerapkan nilai-nilai spiritual tersebut. Karenanya pendidikan Islam pada anak usia dini tidak hanya berkorelasi dengan peningkatan kualitas guru sebagai tutor atau pendidik, akan tetapi juga berkaitan erat dalam peningkatan kualitas kesalehan orang tua. Hal tersebut sangat penting kiranya, karena agama tidak hanya sebagtas dihafal akan tetapi juga diamalkan dan dijadikan sebgai pedoman hidup terutama bagi generasi yang akan datang.
Pendidikan selayaknya harus dilakukan sedini mungkin. Hal ini karena tahun-tahun pertama kehidupan anak merupakan masa yang sangat penting dan kritis dalam pertumbuhan fisik, mental, dan psikososial anak.
Setiap orang tua memiliki harapan yang banyak kepada anak-anaknya. Hal ini karena anak adalah investasi yang tak ternilai harganya. Kesuksesan anak di masa mendatang adalah kebanggaan dan kebagiaan bagi orang tuanya juga. Karenanya orang tua dituntut untuk menempuh cara yang optimal dalam mengupayakan pendidikan anak sedini mungkin bahkan sebelum anak lahir kedunia atau masih dalam kandungan ibu.
Betapa pentingnya pendidikan anak usia dini, dikarenakan pendidikan usia dini merupakan dasar pembentukan mental anak yang nantinya akan menampung dan menerima pendidikan yang lebih tinggi di masa-masa kehidupannya yang akan datang. Apabila pendidikan anak usia dini tidak difasilitasi dan dibiarkan begitu saja, maka bukan tidak mungkin kedepannya orang tua atau guru akan sulit untuk mengajarkan baik pengetahuan atau pun nilai-nilai kehidupan sosial dan agama anak nantinya.
Pentingnya pendidikan anak usia dini telah menjadi perhatian dunia internasional. Dalam pertemuan Forum Pendidikan Dunia tahun 2000 di Dakar Senegal menghasilkan enam kesepakatan sebagai kerangka aksi pendidikan untuk semua dan salah satu butirnya adalah memperluas dan memperbaiki keseluruhan perawatan dan pendidikan anak usia dini, terutama bagi anak-anak yang sangat rawan dan kurang beruntung, Indonesia sebagai salah satu anggota forum tersebut terikat untuk melaksanakan komitmen ini.
Ada empat pertimbangan pokok pentingnya pendidikan anak usia dini, yaitu: (1) menyiapkan tenaga manusia yang berkualitas, (2) mendorong percepatan perputaran ekonomi dan rendahnya biaya sosial karena tingginya produktivitas kerja dan daya tahan, (3) meningkatkan pemerataan dalam kehidupan masyarakat, dan (4) menolong para orang tua dan anak-anak.
Dalam disiplin ilmu neurosciences, pendidikan anak usia dini pada hakikatnya memiliki fungsi untuk mengoptimalkan perkembangan otak sehingga sel-sel otak dapat terangsang untuk lebih cepat berkembang secara pesat. Akan tetapi pendidikan anak usia dini sepatutnya tidak hanya terbatas pada pengembangan kognitif saja, namun juga harus mencakup seluruh proses stimulasi psikososial dan penanaman dasar-dasar spiritual. Maka dengan demikian, pendidikan anak usia dini dapat berlangsung dimana saja dan kapan saja tidak hanya melulu dibatas oleh tembok kelas sekolah.
Tidak seperti pendidikan yang diterapkan kepada remaja atau manusia dewasa, pendidikan usia dini harus disesuaikan dengan masa tumbuh kembang psikologis anak. Seperti yang telah banyak diketahui, bahwa masa kanak-kanak adalah masa bermain, maka pendidikan usia dini pun seharusnya lebih memperbanyak unsur permainan yang tidak mengekang sehingga membuat anak tetap rileks dan terjaga mood-nya.
Kita tidak bisa memaksa anak usia dini untuk belajar layaknya orang dewasa yang belajar dengan cara mendengarkan ceramah, namun kita bisa menanamkan nilai-nilai dan pengetahuan pada anak melalui permainan, seperti dongeng, merangkai bentuk, merangkai warna, menggambar dan lain sebagainya. Dikarenakan hal tersebut maka seorang pendidik harus menyediakan kelas yang berisi kesenangan, antusiasme, dan rasa penasaran.
Begitupun dalam pendidikan Islam yang tidak hanya mengedepankan pengetahuan kognitif namun juga pengetahuan spiritual keagamaan, maka pendidikan Islam bagi anak usia dini seharusnya tidak hanya sebatas hafalan doa atau pun surat-surat pendek al-Quran saja, akan tetapi bagaimana cara menerapkannya. Pendidikan spiritual keagamaan seharusnya tidak hanya dibebankan kepada guru taman kanak-kanak, play gorup atau pun raudhatul athfal, akan tetapi orang tua memiliki peran yang sangat penting bagaimana menerapkan nilai-nilai spiritual tersebut. Karenanya pendidikan Islam pada anak usia dini tidak hanya berkorelasi dengan peningkatan kualitas guru sebagai tutor atau pendidik, akan tetapi juga berkaitan erat dalam peningkatan kualitas kesalehan orang tua. Hal tersebut sangat penting kiranya, karena agama tidak hanya sebagtas dihafal akan tetapi juga diamalkan dan dijadikan sebgai pedoman hidup terutama bagi generasi yang akan datang.






0 komentar:
Posting Komentar